Selasa, 04 Juni 2013

Makalah Temuan Psikolinguistik


1.1   LATAR BELAKANG
Psikolinguistik adalah penggabungan antara dua kata “psikologi” dan “linguistik”, yang merupakan dua buah disiplin yang berlainan dan berdiri sendiri. Secara kebetulan kedua disiplin ini mengkaji suatu perkara yang sama, yaitu bahasa, dengan cara yang berlainan dan dengan tujuan yang berlainan pula.
Temuan psikolinguistik amat beragam jumlah dan versi teorinya. Salah satu temuan psikolinguistik yang sangat penting bagi pengajaran bahasa adalah lahirnya perbedaan konsep antara pemerolehan bahasa (language acquisition) dan pembelajaran bahasa (language learning).
Oleh karena adanya keragaman dan variasi temuan psikolinguistik, maka akan diuraikan mengenai temuan mengenai pemerolehan fonologi, kosa kata, sintaksis, dan semantik, serta pragmatik.
1.2   RUMUSAN MASALAH
Permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1)    Bagaimana pemerolehan fonologi dalam psikolinguistik?
2)    Bagaimana pemerolehan kosa kata dalam psikolinguistik?
3)    Bagaimana pemerolehan sintaksis dalam psikolinguistik?
4)    Bagaimana pemerolehan semantik dalam psikolinguistik?
5)    Bagaimana pemerolehan pragmatik dalam psikolinguistik?
1.3   METEDOLOGI PENELITIAN
          Makalah ini menggunakan pendekatan studi pustaka.


1.4   SISTEMATIKA PENULISAN
          Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dari pembahasan ini, maka penulis membagi menjadi tiga bab dan setiap bab memiliki sub-sub yang berkaitan.
Sistematika penulisan secara terperinci sebagai berikut :
1.     Bab pertama adalah pendahuluan, bab ini terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, metode penulisan dan sistematika penulisan
2.     Bab kedua adalah pembahasan meliputi: pembelajaran bahasa, sejarah pembelajaran bahasa, strategi pembelajaran bahasa indonesia, metode pembelajaran, teknik pembelajaran.
3.     Bab ketiga adalah penutup. Bab ini terdiri dari kesimpulan.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1   PEMEROLEHAN FONOLOGI
Jakobson mengemukakan bahasa ada keuniversalan dalam bunyi-bunyi bahasa, dan urutan pemerolehannya. Menurut Jakobson, pemerolehan bunyi berjalan selaras dengan kodrat bunyi itu sendiri dan anak memperoleh bunyi-bunyi ini melalui suatu cara yang konsisten. Bunyi yang pertama yang keluar dari anak adalah kontras antara vocal dan konsonan. Dalam hal bunyi vocal ini, ada tiga vocal yang disebut sebagai sistem vocal minimal (minimal vocalic system) yang sifatnya universal. Artinya, dalam bahasa manapun ketiga bunyi vocal ini pasti ada :
                                       I                                              U
                            
                                                 
           A
Suatu bahasa bisa memiliki lebih dari tiga vokal ini, tetapi tidak ada bahasa yang memiliki kurang daripada tiga vokal ini.
Mengenai konsonan, Jakobson mengatakan bahwa kontras pertama muncul adalah oposisi antara oral dengan nasal dan kemudian disusun oleh labial dengan detal. Sistem kontras ini disebut sistem konsomental minimal (minimal consonantal system).
Inventori bunyi-bunyi bisa saja berbeda dari satu bahasa ke bahasa yang lain yang memang merupakan fakta, tetapi hubungan sesama bunyi itu sendiri bersifat universal. Oleh karena itu terdapat hukum yang dinamakan Laws of Irreversible.
Kalau kita perhatikan urutan pemerolehan bunyi-bunyi yang dilakukan oleh anak, yakni dari bunyi yang mudah ke bunyi yang sukar, maka dapat dikatakan bahwa anak mengikuti kaidah yang dinamakan The Law of Least Efforts (kaidah usaha minimal). Ukuran mudah sukarnya suatu bunyi didasarkan pada artikulasi dan jumlah fitur distingtif yang ada pada masing-masing bunyi.
Clark dan Clark lebih jauh menemukan fakta-fakta bagi representasi berdasarkan orang dewasa dalam kenyataan bahwa :
1)    Anak-anak mengenali makna-makna berdasarkan persepsi mereka sendiri terhadap bunyi kata-kata yang mereka dengar;
2)    Anak-anak menukar (mengganti) ucapan mereka dari waktu ke waktu menuju orang dewasa;
3)    Anak-anak mulai menghasilkan segmen bunyi tertentu.

à  Beberapa teori pemerolehan fonologi :
2.1.1   Teori Struktural Sejagat
          Teori ini mencoba menerangkan pemerolehan fonologi berdasarkan jagat-jagat linguistik, ysitu hukum-hukum structural yang mengatur tiap-tiap perubahan bunyi. Teori ini ditemukan oleh Jakobson.
2.1.2   Teori Generatif Struktural Sejagat
          Unsur-unsur yang paling menonjol dari teori ini adalah penemuan konsep dan pembentukan hipotesis berupa unsur-unsur yang dibentuk oleh kanak-kanak berdasarkan data-data linguistik utama, yaitu kata-kata dan kalimat yang didengarkan sehari-hari. Teori ini dikemukakan oleh Moskowitz dengan meluaskan teori struktural sejagat yang diperkenalkan oleh Jakobson dengan cara menerapkan unsur-unsur fonologi yang diperkenalkan oleh Chomsky dan Halle (1963).
2.1.3   Teori Proses Fonologi Alamiah
          Teori ini dilandasi oleh pengandaian bahwa sistem fonologi suatu bahasa pada umumnya merupakan bukti dari satu sistem proses-proses fonologi nurani yang disesuaikan dengan cara-cara tertentu oleh pengalaman-pengalaman linguistik. Menurut Stampe, proses-proses fonologi kanak-kanak bersifat nurani yang harus mengalami penindasan, pengaturan penuranian representasi fonemik orang dewasa. Teori ini diperkenalkan oleh David Stampe.
2.1.4   Teori Prosodik Akustik
          Pemerolehan bahasa merupakan suatu proses sosialisasi, sehingga pengkajian data mengenainya lebih tepat dilakukan di rumah dalam konteks sosialisasi terutama untuk mengetahui proses-proses yang berlaku pada waktu pemerolehan fonologi. Teori ini diperkenalkan oleh Waterson.
2.1.5   Teori Persepsi Penuh Sistem Logogen
          Teori ini diperkenalkan oleh Smith. Dalam melahirkan fonologinya, Smith telah menggabungkan kesimpulan pengamatan penuh dengan satu model psikologi yang eksplisit, yaitu model logogen yang diperkenalkan oleh Morton.
2.1.6   Teori Kontras dan Proses
          Teori ini diperkenalkan oleh Ingram, yaitu satu teori yang menggabungkan bagian-bagian penting daripada teori Jakobson dengan bagian-bagian penting daripada teori Stampe kemudian menyelaraskan hasil gabungan ini dengan teori perkembangan Piaget.

2.2   PEMEROLEHAN KOSA KATA
Secara konseptual antara pemerolehan bahasa atau perkembangan pemerolehan bahasa dengan perkembangan bahasa adalah berbeda. Perkembangan pemerolehan bahasa menekankan segi pemerolehan bahasa yang ditandai oleh awal kelahiran seorang bayi, sedangkan aspek perkembangan bahasa mempersoalkan bagaimana perkembangan bahasa yang telah diperoleh.
Dalam pemerolehan kosa kata, anak mempelajari dua jenis kosa kata, yaitu kosa kata umum dan kosa kata khusus. Pada setiap jenjang umur, kata-kata umum lebih banyak dari pada kosa kata khusus.
2.2.1   Kosa Kata Umum
1)       Kata benda
2)       Kata kerja
3)       Kata sifat
4)       Kata keterangan
5)       Kata ganti
2.2.2   Kosa Kata Khusus
1)       Kosa kata warna
2)       Jumlah kosa kata
3)       Kosa kata waktu
4)       Kosa kata uang
5)       Kosa kata ucapan populer
6)       Kosa kata sumpah
7)       Bahasa rahasia

Menurut para pakar, urutan pemerolehan kosa kata seorang anak dimulai dari kosa kata dasar (basic vocabulary). Tarigan mencoba merinci jenis-jenis kosa kata dasar, yaitu :
1)       Istilah kekerabatan
2)       Nama-nama bagian tubuh
3)       Kata ganti pokok (diri, penunjuk)
4)       Kata bilangan pokok
5)       Kata kerja pokok
6)       Kata keadaan pokok
7)       Nama benda-benda

Hal yang perlu dicatat, bahwa setelah anak memasuki usia sekolah perkembangan kosa katanya akan semakin luas. Diperkirakan seorang anak kelas 1 SD telah mengetahui kira-kira antara 20.000 hingga 24.000. sedangkan anak kelas IV SD diperkirakan telah mengetahui sekitar 50.000 kosa kata dan anak yang telah memasuki SMU telah mengetahui 80.000 kosa kata.

2.3   PEMEROLEHAN SINTAKSIS
Pada umumnya para peneliti pemerolehan bahasa beranggapan bahwa pemerolehan sintaksis hanya bermula apabila kanak-kanak mulai menggabungkan dua atau lebih kata-kata (lebih kurang umur 2 tahun). Oleh karena itu, peningkatan satu kata atau holoprastik (lihat Steinberg, 1949 :157) pada umumnya dianggap hidup berkaitan dengan perkembangan sintaksis sebab masa ini anak belum memiliki ciri penggabungan dengan kata lain untuk membentuk frasa atau klausa.  Meskipun ahli-ahli seperti E.Clark (1977) dan Gagman (1979) dalam Simanjuntak (1987 : 199) mempunyai keyakinan bahwa peringkat satu kata (holoprastik) ini dapat memberikan gambaran dalaman mengenai perkembangan sintaksis dan karena itu ada baiknya diikutsertakan dalam teori pemerolehan sintaksis. Berikutnya berbicara mengenai penguasaan sintaksis ini akan dibagi dua bagian, yaitu pemerolehan sintaksis pada anak usia pra-sekolah (0-4 tahun) dan pada anak usia sekolah (5 tahun ke atas).
2.3.1   Pemerolehan Sintaksis Pada Anak Usia 0-4 Tahun
Di dalam perkembangan anak (normal), konstruksi sintaksis paling awal dapat diamati pada usia sekitar 8 bulan. Namun, pada beberapa anak tertentu sudah dapat ditemui pada usia sekitar 1 tahun, sedangkan pada beberapa anak yang lain pada usia dari dua tahun. Perkembangan penguasaan kosa kata.
Tahap perkembangan sintaksis pada anak secara singkat dapat dirangkum sebagai berikut (Ingram, 1989 : 3); ini pentahapan yang dikenal secara tradisional.
1)    Masa “pra-lingual”- Lahir sampai akhir usia 1 tahun.
2)    Kalimat satu kata - sekitar 1 tahun sampai 1,5 tahun.
3)    Kalimat dengan rangkaian kata - sekitar 1,5- 2 tahun
4)    Konstruksi sederhana dan kompleks – 3 tahun. (Purwo,1991 :1211).
Pada usia 2 tahun anak mulai menguasai kaidah infleksi (deklinasi, konjungsi, dan perbandingan), dan pada usia 2,6 ke atas terjadi pemunculan klausa sematan dan kalusa subordinatif. Sebelum usia 3 tahun anak mulai menanyakan hal-hal yang abstrak, dengan kata tanya seperti mengapa?, kapan, (Stern, 1924 dikutip dari Ingran 1989 :39-45 melalui (Purwo, 1991 : 121).
Dalam hal ini, ada beberapa perbedaan pendapat diantara para peneliti. Nice (1925, dikutip dari Ingran 1989 : 46), misalnya melaporkan bahwa anak usia 3 tahun baru dapat menguasai kalimat pendek atau kalimat tidak sempurna. Adapun kalimat lengkap dan kalimat kompleks baru dikuasai anak usia 4 tahun. Perbedaan ini menurut Bowerman (1981), antara lain karena perbedaan mengenai jenis-jenis kalimat yang didefinisikan sebagai kalimat “kompleks” dan perbedaan mengenai pengetahuan yang dimaksud sudah memiliki anak sehingga dapat menghasilkan “kalimat kompleks” itu. Akan tetapi, menurut Bowerman, kebanyakan penelitian berkesimpulan bahwa sebagian besar jenis-jenis kalimat kompleks sudah muncul pada anak usia 2 dan 4 tahun.
Pada paruh kedua usia 3 tahun muncul penggunaan konjungsi koordinatif dan subordinatif. Sebelum usia, klausa hanya disejajarkan saja, tanpa dirangkai dengan konjungsi. Pada usia ini, belum terdapat konstruksi dengan klausa yang menduduki fungsi subjek. Menurut Limber (1976, dikutip dari Bowerman, 1981 :288), keterlambatan “pengoperasian subjek” ini bukan karena kekurangtahuan anak, melainkan kebanyakan  kalimat yang diucapkan oleh anak pada usia ini mengandung subjek yang berupa promina atau nama diri, yang memang tdak terbuka untuk mengalami perluasan konstruksi.
2.3.2   Penguasaan Sintaksis Anak Usia 5 Tahun ke Atas
Sampai dengan tahun 1960-an orang beranggapan bahwa anak sudah dapat menguasai sintaksis bahasa ibunya pada usia 5 tahun, dan perkembangan selanjutnya hanyalah penambahan kata-kata canggih.  Disertai Carol Chomsky (1968 terbit 1969) melawan anggapan ini. Di dalam penelitian itu ditelusuri perbedaan antara tata bahasa anak usia 5 sampai 10 tahun dan tata bahasa orang dewasa, dan tersingkaplah bahwa ada sejumlah sintaksis bahasa Inggris yang belum dikuasai dengan sempurna pada anak usia sekolah dasar. Pendapat ini didukung oleh pengetahuan mengenai perkembangan kognitif anak. Pada anak usia antara 5 dan 14 masih terjadi perubahan kognitif yang mendasar. Kalau kita menganut pandangan Piaget, yaitu bahwa perkembangan bahasa berkaitan dengan perkembangan bahasa erat berkaitan dengan perkembangan kognitif, maka masih akan terjadi pula perkembangan bahasa pada anak usia 5 tahun.
2.3.3   Teori Tata Bahasa Pivot
Kajian mengenai pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak dimulai ileh Braence (1963), Bellugi (1964), Broern dan Fraser (1964), dan Miller dan Ervin (1964). Menurut kajian awal ini ucapan dua kata kanak-kanak ini terdiri dari dua jenis kata menurut posisi dan frekuensi munculnya kata-kata itu di dalam kalimat. Kedua jenis kata ini kemudian dikenal dengan nama kelas Pivot dan kelas terbuka. Kemudian berdasarkan kedua jenis kata ini lahirlah teori yang disebut teori tata bahasa Pivot. Pada umumnya kata-kata yang termasuk kelas pivot adalah katap-kata fungsi (function words) atau kata penuh (full words) seperti kata-kata berkategori nomina dan verba. Ciri-ciri umum kedua jenis kata ini adalah berikut ini.

Kelas Pivot
Kelas Terbuka
1.  Terdapat pada awal atau akhir kalimat.
2.  Jumlahnya terbatas, tetapi sering muncul.
3.  Jarang muncul anggota baru (kata baru).
4.  Tidak pernah muncul sendirian.
5.  Tidak pernah muncul bersama dalam satu kalimat
6.  Tidak punya rujukan sendiri;  tetapi selalu merujuk pada kata-kata lain dari kelas terbuka.
1.  Dapat muncul pada awal dan akhir kalimat.
2.  Jumlahnya tidak terbatas, sehingga tidak begitu sering muncul.
3.  Sering muncul angora baru (kata baru)
4.  Bisa muncul sendirian.
5.  Bisa muncul bersama dalam satu kalimat; atau juga dari kelas pivot.
6.  Mempunyai rujukan sendiri.

Gabungan kata pivot dan kata kelas terbuka menurut Mc. Neil yang mungkin adalah:
P       +       O
O       +       P
O       +       O
          O
          Yang tidak mungkin adalah
*P      +       P
          *P
2.3.4   Teori Hubungan Bahasa Nurani
Tata bahasa generative transformasi dari Chomsky (1957,1965) sangat terasa pengaruhnya dalam pengkajian perkembangan sintaksis kanak-kanak. Menurut Chomsky hubungan-hubungan tata bahasa tertentu seperti “subjek-of, predicate-of, dan direct object-of)” adalah bersifat universal dan dimiliki oleh semua bahasa yang ada di dunia ini.
Berdasarkan teori Chomsky tersebut, Mc. Neil (1970) menyatakan bahwa pengetahuan kanak-kanak mengenai hubungan-hubungan tata bahasa universal ini adalah bersifat “nurani”. Maka itu, akan langsung mempengaruhi pemerolehan sintaksis kanak-kanak sejak tahap awalnya. Jadi, pemerolehan sintaksis ditentukan oleh hubungan-hubungan tata bahasa universal ini.
Menurut teori generative transformasi Chomsky hubungan subject-of dapat dirumuskan seperti bagan berikut:
K                FN + FV
Keterangan:
K       = kalimat              FN     = frase nomina
FV     = frase verbal
Sejalan dengan teori hubungan-hubungan bahasa nurani ini, Menyuk (Simanjuntak, 1987) menyarankan satu teori pemerolehan sintaksis yang ditentukan oleh system linguistic generative transformasi yang telah menajdi sebagian pengetahuan kanak-kanak. Pengetahuan yang telah diperoleh sejak lahir ini mengenai rumus-rumus struktur dasar tata bahasa dan rumus-rumus transformasi dan fonologi mennetukan bentuk-bentuk ucapan kanak-kanak. Jadi menurut Menyuk, tanpa konteks ekstra linguistik, ucapan awal kanak-kanak akan menunjukan hubungan atau urutan S + V (subjek + verba) dengan posisi O (objek) sebagai opsional. Dengan demikian, kalimat-kalimat berurutan OSV dan SOV pun akan muncul di samping kalimat-kalimat SVO.
2.3.5   Teori Hubungan Tata Bahasa Dan Informasi Situasi
Selanjutnya Bloom juga menyatakan bahwa suatu gabungan kata telah digunakan oleh kanak-kanak dalam suatu situasi yang berlainan. Juga dengan hubungan yang berlainan di antara kata-kata alam gabungan itu. Umpamanya, kedua kata benda dalam “momy sock” pada contoh yang lalu sangat jelas menunjukan hal itu. Pada situasi pertama hubungan kedua kata benda itu adalah menyatakan hubungan subjek-objek, sedengkan dalam situasi kedua adalah hubungan pemilik-objek. Contoh lain “sweet chair” yang disajikan di atas kiranya dapat menyatakan tiga hubungan bergantung pada situasinya. Dalam bahasa Indonesia ucapan “ibu kue” dalam situasi yang berbeda-beda dapat diartikan:
1) anak itu meminta kue kepada ibunya
2) anak itu menunjukan kue kepada ibunya.
3) anak itu menawarkan kue kepada ibunya.
4) anak itu memberitahukan ibunya bahwa kuenya jatuh atau diambil orang lain, dan sebaginya.
2.3.6   Teori Komulatif Kompleks
Teori ini dikemukakan oleh Brown (1973) berdasarkan data yang dikumpulkannya. Menurut Brown, urutan pemerolehan sintaksis oleh kanak-kanak ditentukan oleh kumulatif kompleks semantik merfem dan kumulatif kompleks tata bahasa yang sedang diperoleh itu. Jadi, sama sekali tidak ditentukan oleh frekuensi munculnya morfem atau kata-kata itu dalam ucapan orang dewasa. Dari tiga orang kanak-kanak (berusia dua tahun) yang sedang memperoleh bahasa Inggris yang diteliti Brown, ternyata morfem yang pertama dikuasai adalah bentuk progressive-ing dari kata kerja; padahal bentuk ini tidak sering muncul dalam ucapan-ucapan orang dewasa.
2.3.7   Teori Pendekatan Semantik
Teori pendekatan semantik ini menurut Greenfield dan Smith (1976)  pertama kali diperkenalkan oleh Bloom. Dalam hal ini Bloom (1970) mengintergrasikan pengetahuan semantik dalam perkembangan sintaksis ini berdasarkan teori generative transformasinya Chosmky (1965).
Perbedaan antara pendekatan semantik ini dengan teoari hubungan tata bahasa nurani adalah bahwa kalau teori tata bahasa nurani menerapkan hubungan-hubungan sintaksis dalam menganalisis struktur ucapan kanak-kanak, maka teori pendekatan semantik menemukan strujtur ucapan itu berdasarkan hubungan-hubungan semantik. Jadi teori hubungan tata bahasa nurani menerapkan struktur sintaksis orang dewasa, yaitu:
K                FN + FV
pada ucapan-ucapan kanak-kanak, sedangkan teori pendekatan semantik menemukan struktur:
Agen + kerja + objek, atau
Agen + kerja, atau
Objek + kerja
pada ucapan kanak-kanak, yaitu struktur yang menggambarkan hubungan-hubungan semantik. Namun, menurut Bowerman (1973) dan Brown (1973) hubungan-hubungan semantik ini tidak selalu sejalan atau sesuai dengan hubungan-hubungan sintaksis yang diterapkan.

2.4   PEMEROLEHAN SEMANTIK PADA ANAK
          Berbeda dengan pemerolehan fonologi yang banyak dipengaruhi oleh aspek fisiologi, pemerolehan makna lebih banyak ditentukan oleh kematangan gaya kognitif dan lingkungan. Proses menuju ke kedewasaan menambah kemampuan untuk mengamati dan menyerap fenomena alam sekitar, lingkungan memberikan bahan masukan untuk mengelompokkan atau memilah-milah satu fenomena dari yang lain. Dengan dasar seperti inilah anak sedikit demi sedikit memberikan makna bagi aktivitas, keadaan, dan benda-benda disekitarnya (Dardjowidjojo, 1991 : 71-72).
2.4.1   Pengembangan Makna
Pengembangan makna pada anak-anak mengikuti alur tertentu. Ada makna proporsional, yakni makna yang merujuk pada pelaku pembuatan makna itu sendiri, hal atau orang yang terkena perbuatan, lokasi, waktu, dan sebagainya. Dalam pertumbuhannya menyerap alam sekitar, anak lama-lama menemukan adanya perbedaan-perbedaan kategori semantik seperti ini. Alur ini adalah alur yang merujuk pada rasa ingin tahu, pertanyaan, perintah, penolakan dan sebagainya. Makna seperti ini adalah makna yang pragmatik. Alur yang ketiga adalah makna yang memang kodratnya ada pada masing-masing kata. Makna dalam kategori ini sangatlah kompeks. Karena anak harus dapat menyerap dan membuat hipotesis sendiri mengenai kemiripan ataupun perbedaan antara satu entitas dengan entitas yang lain sering pula bersifat relatif.
Apabila ada pelaku yang melakukan suatu terhadap suatu hal, anak harus dapat menyerap hubungan antara tiga elemen ini, meskipun wujud ajarannya mungkin barulah satu patah kata.  Lebih kompleks lagi adalah kata-kata rasional yang mempunyai dimensi yang kontras, seperti besar versus kecil, tinggi versus rendah, panjang versusu pendek, dan sebagainya.
2.4.2   Pemerolehan Nomina
          Penguasaan nomina pada anak ada dua pola yang saling bertentangan. Di satu pihak, anak melakukan generalisasi makna menjadi overextention atau mencakup pengertian yang lebih luas daripada semestinya. Dalam hal perluasan makna ini ada dua pandangan yang menarik. Hipotesis fitur semantik yang diajukan oleh Eve de Clark  (di de villers, 1982 : 126) menyatakan bahwa kita memiliki sekelompok fitur semantik, tetapi seorang anak kecil hanya menguasai sebagian dari fitur-fitur ini.
          Teori lain ( Browman, 1977, di de Vilers dan de Vilers, 1982 :128) beranggapan bahwa anak tidak memetik makna parsial, tetapi secara kompleksif.  Anak tidak memandang salah satu atau beberapa fitur semantik itu lebih relevan daripada yang lain.  Anak pada umumnya memanfaatkan tangga yang di tengah sebagai titik tolak. Oleh karena itu, pengertian-pengertian yang umumlah yang pertama-tama (diberikan orang tua dan) dikuasai anak. Anak akan lebih dahulu mengenal mama, papa, sebelum kakek, nenek, paman, ipar dan sebagainya. Dengan kata lain, makna diciutkan ke arah suatu yang ada di tengah tangga abstraksi.
2.4.3   Pemerolehan Verba dan Kategori Lain
          Seperti halnya nomina, verba pun diperoleh anak secara bertingkat dengan yang umum dikuasai terlebih dahulu dan yang kompleks dikuasai kemudian. Umumnya verba dan kategori lain seperti pronomina yang dikuasai awal adalah yang berkaitan dengan kehidupan anak sehari-hari misalnya jatuh, pecah, habis, dan bentuk. Pemerolehan lain seperti adjektif juga selaras dengan pemerolehan nomina atau verba. Salah satu hal yang menarik dalam hal ini adalah bahwa umumnya adjetif yang positif lah yang dikuasai terlebih dahulu. Seperti kita maklumi, banyak adjektif yang yang memiliki polaritas positif dan negatif, misalnya besar -kecil, tinggi - pendek, tebal – tipis, dan seterusnya. Dari ketiga contoh ini, besar, tinggi, dan tebal merujuk pada pengertian yang positif. Tidak mustahil bahwa dalam proses penguasaan secara sempurna si anak tersandung-sandung secara semantik sehingga terjadilah kesimpangsiuran pengertian.

2.5   PEMEROLEHAN PRAGMATIK
          Dalam definisinya yang paling mendasar, pragmatik dapat dikatakan sebagai cabang ilmu linguistik yang membahas penggunaan bahasa –The study of language use (Ninio dan snoe, 1989:9,  Verschueren. 1999:1 dalam Dardjowidjojo. 2009:1). Bahasa terdiri dari tiga komponen ini terkait dengan unit analisis sendiri-sendiri. Pragmatik bukan memberikan prespektif yang berbeda terhadap bahasa. Prespektif ini ditemukan pada tiap komponen.
          Karena pragmatik merupakan bagian dan prilaku berbahasa maka penelitian tentang pemerolehan tidak mengamati, bagaimana anak mengembangkan kemampuan pragmatiknya. Seperti disarankan oelh Nino dan Snow (1996:1), paling tidak kita perlu mempelajari :
1)    Pemerolehan niat komunitatif (communicative intens) dan pengembangan ungkapan bahasanya.
2)    Pengembangan kemampuan bercakap-cakap dengan segala aturannya, dan
3)    Pengembangan piranti untuk membentuk wacana yang kohesif
2.5.1   Pemerolehan Niat Komunikatif
Dalam minggu-minggu pertama sesudah lahir, anak mulai menunjukan niat komunikatifnya dengan antara lain tersenyum, menoleh jika dipanggil, menggapai bila diberi sesuatu, memberikan sesuatu kepada orang lain, dan kemudian main cilukba. Semua ini ada pada masa pravokalisasi dan sering dirujuk dengan istilah Proto-deklaratif dan Proto-imperatif karena memang dua bentuk ini lah yang muncul pada awal (Ninio dan Snow:47, dalam Dardjowidjojo, 2004:44). Setelah perkembangan biologisnya memugkinkan anak mulai mewujudkan niat komunikatif ini dalam bentuk bunyi. Ninio dan Snow bahkan mendapati bahwa dalam mewujudkan urutan-urutannya yang ditandaskan pada bagian kepentingan pragmatik seperti: kepentingan ujaran, peran kelayakan ujaran, dan kompleksitas kognitif (Ninio dan Snow, 1996:104).
Kepentingan ujaran pada anak bertitik tolak pada sudut pandang anak sehingga macam ujaran yang muncul juga mencerminkan kepentingan diri.
2.5.2   Pengembangan Kemampuan Percakapan
Anak secara bertahap menguasai aturan-aturan yang ternyata ada dan harus diikuti. Suatu percakapan mempunyai tiga komponen: 1. Pembuka, 2. Giliran, 3. Penutup.
Dalam pembukaan harus ada ajakan dan tanggapan –A mengajak dan B menanggapi. Dalam batang tubuh percakapan ada aturan main yang harus diperhatikan, khususnya aturan yang berkaitan dengan giliran berbicara (Clark dan Clark, 1997;227-232; Langford, 1994, Geis, 1998). Aturan yang normal adalah 1. Giliran bicara berikutnya adalah ada pada orang yang diajak bicara oleh pembaca, 2. Diliran bicara berikutnya lagi adalah pada orang  yang berbicara lebih dahulu, 3. Giliran bicara berikutnya adalah pada pembicara, bila ternyata tidak ada orang lain yang berbicara.
          Meskipun aturan (1-3) seperti dijabarkan di atas banyak dipakai orang, sifatnya tidak dapat dikatakan universal karena tatakrama yang berlaku dalam masyarakat berbeda-beda. Dalam masyarakat kita aturan mengenai giliran untuk berbicara tampaknya dipengaruhi pula oleh tingkat pendidikan keluarga.
2.5.3   Pengembangan Piranti Wacana
Wacana untuk anak pada umumnya berbentuk percakapan antara anak dengan orang dewasa atau anak dengan anak meskipun dalam percakapan tersebut bila terdapat narasi, eksplanasi dan definisi. Percakapan seperti ini dapat berjalan lancar karena tiga hal. Pertama, pendengarnya adalah orang dekat seperti orang tua, kakak-adik, eyang dan untuk banyak orang Indonesia, pembantu kedua pendengar memberikan dukungan konversasional kepada anak. Tidak jarang dalam suatu percakapan dengan anak, orang dewasa memberikan dukungan yang berupa kalimat memancing atau membimbing kelanjutan pembicaraan. Ketiga hal yang dibicarakan umumnya berkaitan dengan ihwal sini dan kini. Keberadaan dan kekongkreatn benda, serta rujukan pada peristiwa yang sedang berlangsung memudahkan ank untuk berbicara,
Dalam perkembangan pragmatiknya, anal perlu untuk lama kelamaan melepaskan diri dari ketergantungan itu sehingga akhirnya dapat mewujudkan wacana tanpa harus ada bimbingan (clue) dari orang dewasa.



BAB III
KESIMPULAN

Bahasa memiliki keuniversalan dalam bunyi-bunyi bahasa dan urutan pemerolehannya. Secara konseptual antara pemerolehan bahasa atau perkembangan pemerolehan bahasa dengan perkembangan bahasa adalah berbeda.
Dengan bangkitnya tata bahasa transformasi generative pada akhir tahun 1950-an, maka para psikolog pun mulailah memandang bahasa kanak-kanak maupun orang dewasa dengan cara baru. Adanya penekanan dalam teori linguistik pada kaidah-kaidah dan struktur sintaksis.
Pemerolehan makna lebih banyak ditentukan oleh kematangan daya kognitif dan lingkungan. Proses menuju kedewasaan menambah kemampuan untuk mengamati dan menyerap fenomena alam sekitar.
Bahasa terdiri dari tiga komponen dasar : Fonologi, Sintaksis (termasuk morfologi), dan Semantik. Masing-masing komponen ini terkait dengan unit analisis sendiri-sendiri. Pragmatik bukan memberikan perspektif yang berbeda terhadap bahasa. Perspektif ini ditemukan pada tiap komponen. Pragmatik merupakan bagian dari perilaku berbahasa.

 Daftar Pustaka :
Rosidin, Odin. PSIKOLINGUISTIK.
Chaer, Abdul. 2009. Psikolinguistik Kajian Teorerik.  Jakarta : Rineka Cipta.

1 komentar: